Tag Archive | "sedekah yusuf mansur"

Tags: , ,

Amalan Sedekah

Posted on 06 March 2014 by admin

Amalan Sedekah

Itu Baru Dari Amalan Sedekah. Belum Dari Yang Lainnya, Amalan-amalan lain, akan melengkapi indahnya hidup kita.
Tidak ada bosan-bosannya Luqman Hakim mengulang menjelaskan teori sedekah dengan balasan dari Allah sebanyak 10x lipat. Karena banyak hikmah bisa diambil dari keyakinan ini. Salah satunya, ia memberi satu keyakinan buat para pekerja dan pengusaha untuk meningkatkan amal sedekahnya untuk “nguber” pengeluaran yang memang hampir selalu saja lebih besar dari penerimaan.

amalan sedekah

Luqman pun mencontohkan:
Seorang karyawan dengan gaji 1jt, dan pengeluarannya 1,5jt, lalu dia bersedekah sebab tahu bahwa jalan bersedekah insya Allah bisa mencukupi kekurangannya. Menurut teori sedekah, bila ia bersedekah, maka kemungkinan tersebut akan terjadi. Tapi, sedekahnya harus mencukupi kebutuhannya. Bila tidak, maka banyak orang kemudian yang terjebak pada “keputusasaan” sebab setelah sedekah ia masih hidup dalam kekurangan. Yang bahayanya, lantas dia mengamini keyakinan orang banyak bahwa tidak baik bersedekah dengan berharap sesuatu kepada Allah. Padahal mah saudaraaaa, itu terjadi sebab sedekahnya memang “tidak sebanding” dengan hajatnya. Istilahnya Luqman Hakim, sedekahnya “tidak nyampe ukuran yang seharusnya”. Alias kurang. Dan pernyataan bahwa tidak baik bersedekah dengan berharap sesuatu kepada Allah, sering Luqman Hakim bilang, sebagai sesuatu yang harus diteliti lagi. Sebab bukankah berharap sama Allah adalah boleh, dan bahkan menjadi satu ibadah tersendiri?

Ok, kembali lagi pada si karyawan tadi. Pengeluarannya 1,5jt. Sedang pemasukannya 1jt. Lalu dia berhajat kepada Allah dengan jalan sedekah supaya Allah mencukupinya. Namun, sebagaimana dikatakan, bila ia bersedekah dengan sedekah minimalis, Sedekah “hanya” 2,5% misalnya, insya Allah tidak akan mencukupi kekurangan 500rb tersebut. Sebab pertambahan angkanya “hanya” sebesar Rp. 250rb. Darimana pertambahan 250rb tersebut? Dari perkalian 10x lipat sedekah 2,5%nya.
Kita jabarkan ya:
Penerimaan : 1jt.
Sedekah 2,5% : 25rb.
Saldo sisa tercatat : 975rb
Saldo sisa yang tercatat tersebut, ditambah dengan sedekah 2,5% yang dilipatgandakan:
Saldo tercatat : 975rb
Berkah sedekah : 250rb
Saldo akhir : 1.225.000,-
Pengeluarannya? : 1.500.000,-

Amalan Sedekah

Lihat, dengan pengeluaran sebesar Rp. 1,5jt, maka dia masih butuh tambahan sebesar Rp. 275rb. Pantas saja banyak yang kemudian mengatakan, sedekah tidak otomatis mengubah nasib. Lihat saja saya, begitu katanya, sudah sedekah, masih saja tetap harus berhutang sana sini. Waaah, yang payah siapa coba? Janji Allah, atau implementasinya yang masih jauh panggang dari api? Tambah parah, apabila sedekah minimalis tersebut adalah “hasil paksaan” keputusan manajemen perusahaannya yang memotong langsung dari gaji karyawannya. Maka keluhannya akan bertambah tuh, “Sudah kurang, masih dipotong sedekah lagi! Uh uh uh”, begitu barangkali seseorang meratap. Tambah jauhlah dia dari karunia dicukupkan oleh Allah.

Saudaraku, di tulisan ini Luqman Hakim mau bilang, bahwa alhamdulillah Allah tidak serta mendebet dosa manusia ciptaan-Nya dengan kebaikan-kebaikannya. Sebab Allah Tahu kebaikan hamba-Nya tidak akan pernah bisa cukup. Baik untuk menebus dan mengimbangi dosa, atau sebagai wujud rasa syukur. Tidak akan pernah seimbang.
Dan di tulisan ini, Luqman Hakim pun mau bertutur, bahwa alhamdulillah juga Allah berkenan melihat amalan-amalan lain dari kita, sehingga Allah berkenan mencukupkan rizki-Nya untuk kita. Misalnya dari shalat berjamaah yang kita lakukan, shalat-shalat sunnah yang kita kerjakan, puasa-puasa sunnah yang kita dawamkan, hati orang tua yang selalu kita jaga untuk selalu ridha sama kita, senyum tetangga yang selalu kita jaga untuk jangan berubah menjadi keluhan terhadap kita.

Maka ini juga menjadi suatu perhatian, bila sedekah kita kurang, amalan yang lainnya dari kita juga kurang, apalagi ditambah dengan sederet dosa dan keburukan yang kita lakukan, akan semakin jauhlah kita dari kebercukupan. Dan sebaliknya, bila kita melengkapi amaliyah keseharian kita dengan banyak hiasan kebaikan yang terdiri dari amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah, maka insya Allah, hidup kita akan tercukupi.

Dalam kasus si karyawan tersebut, barangkali “reward” Allah dari pintu sedekahnya, hanya membuat penghasilan dia jadi Rp. 1.225.000,-. Tapi insya Allah, Allah berkenan menggenapkannya menjadi Rp. 1,5jt, sebab amalan-amalan dia yang lainnya. Dengan satu catatan yang ingin digarisbawahi, bahwa dia tidak mengikisnya kembali dengan dia punya dosa dan keburukan.
Amalan baik, akan membuat kita punya hidup jauh dari kekurangan. Untunglah Allah akan tetap senantiasa mencukupkan rizki-Nya buat kita.

Artikel Amalan sedekah Ini ditulis dari buku Ustad Yusuf Mansur yang berjudul  ”Menjadi Kaya dalam 40 hari” , Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Add Twitter Ustad Yusuf Mansur . @Yusuf_mansur.
Yuk share/ bagikan artikel ini dengan klik tombol share social media di bawah ini. Terima kasih. 

Comments (1)

Tags: , , ,

Matematika Sedekah

Posted on 26 February 2014 by admin

Yusuf Mansur : Matematika Sedekah

Lihat kelipatannya. Anda akan berteriak, “Subhaanallaah!”
Dulu, tidak sedekah yang besar, sebab tidak tahu. Tidak tahu bahwa siapa yang beramal justru akan dilipatgandakan rizkinya oleh Allah.
Sekarang, tetap tidak beramal besar, meski sudah tahu. Sebab apa?
Sebab tidak mau barangkali. Atau sebab tidak percaya. Kita coba belajar lagi matematika sedekah. Bahwa setiap kita ngasih 1, maka kita
mendapat balasan 10x lipat dari Allah. Lalu kita bisa lihat matematika mengagumkan di bawah ini:

sedekah

Sedekah

10-1 = 19
10-2 = 28
10-3 = 37
10-4 = 46
10-5 = 55
10-6 = 64
10-7 = 73
10-8 = 82
10-9 = 91
10-10 = 100

Lihat kelipatannya. Segitu mengagumkannya matematika sedekah di atas, tetap seseorang kadang tidak tergerak juga untuk sedekah yang besar. Meski tidak sedikit juga yang mendapatkan keberkahan sebab mengamalkannya. Dan sekali lagi lihat kelipatannya di atas. Bila seseorang konstan beramal terus menerus
dalam jumlahnya yang pol, maka sulit juga kita mengejar kelipatannya. matematika sedekah.

Bicara riilnya, misalkan begini: ada seseorang yang penghasilannya 400rb. Lalu, 400-400 nya dia sedekahkan, maka Allah akan memberi balik ke orang tersebut Rp.
4.000.000,-. Lah, kalau dia konstan, subhaanallaah. Katakanlah dia punya pengeluaran 1jt, maka setiap bulan dia akan bisa saving 3jt. Maaf, tp memang begitu kan umumnya?
Lebih besar pengeluaran? Dan untuk mereka yang bergaji dengan range antara 400-700rb, pengeluarannya ya sekitar 1-1,5jt per bulan. Sehingga wajar bila saya kemudian
bilang, dengan cara sedekah pol-polan, dia justru meroket penghasilannya. Bila setiap bulan, sekali lagi, konstan, maka bisa dibayangkan, berapa tabungannya dalam setahun,
dalam dua tahun, dalam tiga tahun, dalam sepuluh tahun, dan seterusnya. Dan itulah yang terjadi pada kisah orang yang menjadi kisah sentral di buku ini: buku Menjadi
Kaya Dalam 40 Hari.

Apalagi kalau dia bisa beramal dengan kelipatan terus berjenjang mengikuti hasil. Taro kata, engga usah 100% nya terus, sbb jarang sekali ada orang yang terus menerus
sedekah 100%. Misalkan cukuplah dia bersedekah 10% saja. Tapi terus menerus. Bahasa agamanya mah, dawam dan istiqaamah, subhaanallaah, makin tidak terkejar
dah.

Yusuf Mansur : Matematika Sedekah

Contoh:
Seseorang punya modal 1jt. Dia sedekah 100.000, alias 10% dari 1jt. Maka Allah menjadikannya berizki 1,9jt. Paham ga kira2? Koq bisa jadi 1,9jt?

Ayo, sekali lagi kembali kita belajar sedikit matematika dasar sedekah, bahwa siapa
yang memberi 1 maka Allah akan mengembalikannya 10x lipat. Maka, hitungannya jadi
begini:
1.000.000
100.000 -
————–
900.000
Saldo 900.000 yang tercatat di atas, sebagai hasil akhir yang bukan sebenarnya. Hasil
sebenarnya, harus ditambah dengan kelipatan sedekahnya: 100.000 menjadi 1jt.
Sehingga saldo akhir jadi 1,9jt.
Jadi, penulisan yang benar di matematika sedekah itu begini:
1.000.000
100.000 -
————–
1.900.000
Karenanya Luqman Hakim sering bilang, bahwa dalam bersedekah, ketika seseorang
bersedekah, pertanyaannya bukan tinggal berapa uangnya? Tinggal berapa hartanya?
Tapi yang benar, jadi berapa uangnya? Jadi berapa hartanya?
Di posisi berikutnya, apabila dia sedekah terus 10%, hasilnya bener-bener
mengagumkan!

Berikut ini ilustrasi apabila dia “kunci mati” sedekahnya 10% dari uang awal (1jt), dan
selanjutnya dia “kunci mati” juga di setiap hasil ikhtiarnya dia akan sedekahkan 10%
nya, saudara akan lihat, di bulan ke-15 saja, investasinya sudah berlipat-lipat menjadi 15
milyar lebih!

Investasi bulan I: Rp. 100.000,- dari 1jt
1.000.000
100.000 -
————–
1.900.000

Di bulan ke-2:
1.900.000
190.000 -
————–
3.610.000

Di bulan ke-3:
3.610.000
361.000 -
————–
6.859.000
Di bulan ke-4:
6.859.000
685.900 -
————–
13.032.100

Di bulan ke-5:
13.032.100
1.303.210 -
—————
24.760.990

Di bulan ke-6:
24.760.990
2.476.099 -
—————
47.045.881

Di bulan ke-7:
47.045.881
4.704.588 -
—————
89.387.174

Di bulan ke-8:
89.387.174
8.938.717 -
—————
169.835.631

Di bulan ke-9:
169.835.631
16.983.563 -
—————–
322.687.699

Di bulan ke-10:
322.687.699
32.268.769 -
—————–
613.106.629

Di bulan ke-11:
613.106.629
61.310.662 -
—————–
1.164.902.596
Di bulan ke-12:
1.164.902.596
116.490.259 -
—————–
2.213.314.933

Di bulan ke-13:
2.213.314.933
221.331.493 -
——————-
4.205.298.373

Di bulan ke-14:
4.205.298.373
420.529.837 -
——————-
7.990.066.909

Di bulan ke-15:
7.990.066.909
799.006.690 -
——————-
15.181.127.128

Look! Lihat!
Mestinya ini menjadi tawaran investasi yang mengagumkan. Tanam terus. Kalau dia tidak ambil-ambil hasilnya, maka benar-benar akan berlipat dan berlipat terus. Tapi
memang, kita kudu sadari, hidup kita ada di tangan-Nya Allah. Dan DIA Maha Tahu apa yang akan terjadi tentang masa depan kita.

Maksudnya apa matematika sedekah?
Begini. Coba perhatikan: Dapat berapa orang tersebut dari ilustrasi investasi akhirat yang berbuah juga di dunia? Di bulan ke-7, orang tersebut dapat: Rp. 89.387.174,-.
Jumlah ini menjadi sebuah keniscayaan. Tapi orang beriman tahu, bahwa masalah hasil, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah. Ternyata, katakan, di bulan tersebut, hasil
kebaikannya dari pintu sedekah ternyata Allah buahkan menjadi hadirnya jabang bayi, sedang dia menunggu kelahiran jabang bayi ini sejak tiga-empat tahun yang lalu. Maka
ketahuilah, ibarat nilai konversi, dapatlah Luqman Hakim mengatakan inilah nilai konversinya: Menjadi anak. Bukankah anak juga adalah rizki?

Bila nilai hasil di bulan ke-8, mestinya dapat Rp. 89.387.174, – dikonversi jadi wujud seorang anak, maka bulan ke-9 nya gimana? Logika bercandanya, enol (0) lagi dong
“saving”nya. Kan sudah dikonversi? Iya kan? Maka, ibarat petani yang setelah selesai memetik, harusnya dia menanam kembali bila ingin memetik lagi.
Dalam kamus amalnya seorang yang takut kematian akan menjadikannya tidak cukup berbekal kebaikan, maka dia tidak akan berhenti menanam kebaikan hingga ajal
menjelang. Apabila Allah tunaikan janji-Nya, dalam perjalanan kehidupan ini, maka itu adalah karunia-Nya. Dan dengan keyakinannya, seorang yang beriman akan yakin,
bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amal seseorang. Pelipatan itu benar-benar terjadi, dalam bentuknya yang Allah kehendaki. Hingga kemudian Allah hadiahkan
surga-Nya, dan bahkan diri-Nya.

Dan alhamdulillah saudaraku… Allah itu Maha Syakur. Maha Berterima kasih. Maha Membalas. Karunia-Nya sungguh tak berbatas. Apa yang kita dapat, sesungguhnya jauh
dari apa yang diilustrasikan di atas. Ilustrasi tersebut tidak menjangkau karunia dari balasan Allah yang sesungguhnya!

“Maha Suci Allah, yang tidak ada ilmu bagi kami, kecuali apa yang Allah
ajarkan kepada kami…”. (QS. al Baqarah: 32).

Yusuf Mansur : Matematika Sedekah

Artikel Ini ditulis dari buku Ustad Yusuf Mansur yang berjudul  ”Menjadi Kaya dalam 40 hari” , Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Add Twitter Ustad Yusuf Mansur . @Yusuf_mansur.
Yuk share/ bagikan artikel ini dengan klik tombol share social media di bawah ini.

Comments (0)

Tags: , ,

Sedekah,Bedanya Beramal dengan Ilmu dan Tanpa Ilmu

Posted on 25 February 2014 by admin

Yusuf Mansur , Berasa: Bedanya beramal dengan ilmu dan tanpa ilmu

Mereka yang beramal dengan ilmu, akan mendapat perbedaan beberapa derajat. seorang pegawai, makan siang, seusai Jum’at. Ketika dia lagi makan, datang kawannya, menemani satu meja. Ia pun turut makan. Ketika mau bayar, dia ditahan oleh kawannya ini, “Biar aku saja yang bayar”, katanya. Jadilah ia dibayarkan makanannya itu. Hitung punya hitung, makanannya itu, 10rb.

Apakah peristiwa itu peristiwa biasa? Iya, kalau melihat dari kacamata tanpa ilmu mah. Kita anggap itu adalah peristiwa biasa. Peristiwa sehari-hari. Tapi andai dia mengetahui sedikit saja tentang fadilah amal, subhaanallaah, dia akan berdecak kagum. Dan bukan tidak mungkin, dia, bila terus meningkatkan ilmu dan kepahamannya, akan meningkatkan juga amalnya.

Memangnya ada apa?
Rupanya, ketika shalat Jum’at, dia ber sedekah seribu rupiah. Loh, hubungannya apa dengan makan siangnya?
Ada. Kan Allah menjanjikan balasan 10x lipat. Dan di beberapa hadits kita menemukan bahwa Allah berkehendak juga membayar sedekah seseorang dengan tunai, ‘ajjaltu
lahuu fil ‘aajil. Dibayar kontan. Nah, itulah bayaran kontannya. Cuma, kalo ga tau, dianggapnya itu peristiwa biasa saja. Bukan hadiah dari Allah sebab amalnya.

 Berasa: Bedanya beramal dengan ilmu dan tanpa ilmu

yusuf mansurMenarik ga?
Tergantung. Kalau Luqman Hakim yang jadi dia, harusnya ini menjadi “brosur yang tidak terlihat” untuk percaya lebih lagi akan janji-Nya, dan memperbaiki amal.
Andai ya, andai… Orang ini ternyata membawa 110rb, alias ada 2 pecahan: pecahan 100rb dan pecahan 10rb, maka ketika “New-Experiental-Learning” didapat dan disadari, tentu ia akan “menyesal”, dan “berjanji” akan memperbaiki dan mengubah kualitas amalnya. Luqman Hakim memberi kasih tanda kutip, sebab kebanyakan
memang manusia cuma bisa berjanji, he he he. Tidak mempraktekkan langsung.
Harusnya kan praktekkan saja langsung.

Tapi sayang, kebanyakan orang tidak berilmu. Ada yang berilmu, tidak berani menyandarkan ilmunya ini menjadi sebuah keyakinan, bahwa peristiwa itu terjadi
pastilah ada hubungannya dengan sedekah di saat Jum’at. Nah, di sini, tampaklah bedanya antara orang yang beramal dengan ilmu dan tanpa ilmu.
Saya insya Allah meyakini, mengapa pula beda derajatnya, sebab memang amalannya beda. Seseorang yang berilmu, akan beramal dengan ilmunya itu. Sehingga ada
keyakinan dan harapan. Bukankah keyakinan dan harapan juga adalah sebuah kelezatan ibadah tersendiri?

“… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian
dan yang memiliki ilmu, beberapa derajat…”. (Qs. al Mujaadilah: 11).

Artikel Ini ditulis dari buku Ustad Yusuf Mansur yang berjudul  ”Menjadi Kaya dalam 40 hari” , Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Add Twitter Ustad Yusuf Mansur . @Yusuf_mansur.

Comments (0)

Tags: , , , ,

Boleh gak sih sedekah ngarep?

Posted on 04 July 2013 by admin

Sedekah, doa, dan pamrih – Artikel ini berisi paparan dari Ustad Yusuf mansur tentang sedekah, doa, dan pamrih. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua umat muslim. 
Ttg sedekah, doa, dan pamrih, konsep saya memang beda.

Doa itu ibadah.

Seperti sedekah, di mana ia juga ibadah. Dan doa, bukan pamrih.

Niat, ga bisa disebut atau disamakan dengan doa.

Niat ya niat. Doa ya doa.

Dari sini semua bermula. Sekedar sharing juga, he he he.

Seseorang yang sedekah, kepengen anaknya sembuh, maka permintaan itu “setara/sama/serupa” dengan pengen kaya, pengen selamet, pengen nikah, pengen kerja, pengen tolak bala, pengen punya rumah, pengen terus sekolah, pengen masuk kampus favorit, pengen beasiswa di luar negeri, pengen punya anak, pengen punya modal, pengen punya modal, pengen ngembangin usaha, pengen punya usaha, pengen naik karir, dll.

Ketika “pengen”, maka itu udah masuk wilayah doa. Bukan niat lagi.

Niatnya apa? Ya niatnya sedekah.

Doanya? Doanya supaya bisa selamet dari fitnah, dll. Semua yg disebut: setara, sama, serupa. Sebab sama-sama disebut doa.

Orang shalat tahajjud. Niatnya?

Ya tentunya niat shalat tahajjud. Usholii sunnatat-tahajjud…

Ketika dia shalat tahajjud supaya dinaikkan derajat, supaya jadi orang kaya, dilapangkan rizki, lunas hutang, sembuh dari penyakit, dll., maka ketika ada kalimat “supaya”, maka itu masuk wilayah doa.

Sedekah, tanpa doa? 1 pahala.

Sedekah + doa ? 2 pahala.

Bila beda di awal, maka beda pula serencengan, he he he. Saya, terhadap amal-amal lain, ya ga nyebut itu sbg pamrih. Bahkan ngarep di mata saya, adalah juga doa. Amal tinggi banget bila seseorang bisa ngarep sama Allah saja. Ga ngarep sama yang lain. Baru bermasalah, bila ngarepnya ke orang. Dia bantu orang lain, tapi ada maunya dari orang itu. Itu yg ga boleh. Atau riya (memperlihatkan amal kepada yg lain). Atau sum’ah (memperdengarkan kpd yg lain).

Baca Qur’an, supaya dapat berkah. Boleh ga?

Nah di sini, beda konsep.

Baca Qur’an, niatnya apa?

Ya pastinya ridho Allah.

Ya baca Qur’an aja. Terus minta hidup berkah, kekayaan berkah, anak2 berkah, rumah tangga berkah, pekerjaan berkah, usaha berkah, umur berkah, tenaga berkah.

Ketika nyebut “supaya”, itu udah masuk lagi2 ke wilayah doa. Jangankan sekedar berkah, atau katakanlah bahwa permintaan itu adalah “cuma” 1 permintaan. Dia minta sejuta permintaan, setelah baca Qur’an, atau bahkan sebelum baca Qur’an, atau bahkan nih, tanpa baca Qur’an, maka doa itu boleh banget2. Ngarep, boleh2 banget. Tidak ada satupun yang berhak melarang.

Jika doa sudah disebut niat, maka itulah awal pertentangan atau perbedaan.

Koq sedekah pengen kaya?

Koq birrul walidain pengen diangkat derajatnya, koq dhuha pengen dibuka rizki… Salah semua jadinya. Padahal, menurut konsep yg saya ikutin, kalo masuk “supaya”, itu masuk wilayah doa sebagaimana disebut di atas. Adalah rugi jika seseorang yg beramal saleh, lalu dia tidak meminta kepada Allah. Rugi banget.

Tapi saya sangat setuju, jika kemudian permintaan itu tidak hanya bersifat duniawi belaka. Tapi minta ridho Allah, minta surga, pengampunan, selamat dunia akhirat. Apapun, itu namanya “minta”. Yg bagus, beramal yang banyak, dan minta yang banyak.

Tulisan yg gini2, sdh jadi buku kompleto atas izin Allah. Judulnya: Boleh Ga Sih Sedekah Ngarep?

Boleh juga ada yg mengatakan. Niatnya melaksanakan tugas kantor. Ngejar target. Supaya naik pangkat, supaya promosi. Supaya naik gaji. Itu kalau di dunia manusia kerja. Apalagi kalau niatnya ibadah, ya keren banget.

Seluruh motivasi dunia, dibenarkan, menurut saya, jika mencarinya “hanya” di Sisi-Nya, dan dg Cara-Cara-Nya.

Dunia adalah milik Allah. Dekatkan semua yang pengen dunia, dengan Pemilik-Nya. Supaya mereka tidak meminta dunia dari selain-Nya, dengan cara-cara yang tidak diridhai juga oleh Pemilik-Nya.

Dan ajarkan mereka yang kepengen dunia, sebagaimana kita mengajarkan karyawan-karyawan kantor u/ bekerja terbaik, ngejar target, lalu dapet bonus terbaik juga.

Maka ajarkan yg pengen dunia, apa-apa yang diperintahkan Pemilik Dunia, spy dapat bonus banyak fii-haadzihil-hayaatid-duniaa… Ajarkan mereka yang pengen dunia, untuk meninggalkan seluruh larangan Pemilik Dunia. Spy dapet. Atau dapetnya dengan ridha-Nya.

Sbb banyak yg dapat, tp tidak dg Ridha-Nya. Dengan cara-cara yang benar, cara2 yg betul, yg hati2, tapi penuh semangat, sbb dunia memang milik Allah. Sementara itu, Allah pun mengajarkan, bahwa semua dunia ini, ga ada seberapanya dibanding apa-apa yang Allah akan berikan di negeri akhir. Ini dia… Ga seberapa dibanding dengan apa-apa yang Allah akan beri di negeri akhir.

Jadi, bukan ga boleh. Justru boleh banget. Malah dimotivasi, bahwa akan dapat yang lebih baik lagi nanti di akhirat. Ajarkan pula kehati2an, bahwa jangan sampe berhenti di expecting something about dunia only. Harus lebih powerful. Minta itu selalu dua, selalu seimbang: permintaan dunia, permintaan akhirat… Kayak yg diajarkan Allah sendiri: Rabbanaa aatinaa fid-duniaa hasanah, wafil-aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaabannaar.

Permintaan seimbang pun trnyata msh ga seimbang. Sbb Allah ngajarin 2:1, dua banding 1. Permintaan kebaikan negeri akhir, msh ditambah permintaan selamat dan terlindungi dari api neraka. Dua permintaan berbanding 1 permintaan di dunia.

Ini sekaligus ngajarin juga kita, bahwa sebaik-baik permintaan, tetap permintaan akhirat. Tapi permintaan akhirat, tetaplah permintaan. Artinya, ya harus juga diminta. Jangan diem aja. Jangan sampe sedekah ya sedekah saja, baca Qur’an ya baca Qur’an saja, dhuha ya dhuha aja, berbuat baik ya berbuat baik saja. Jangan. Kudu ada permintaannya. Kudu ada doanya.

Salam. Selamat berbuat baik, dan berdoalah. Sesungguhnya Allah menunggu dan mendengar doa. Silahkan share apa2 yang didapat di www.yusufmansur.com atau di twitter @yusuf_mansur, ke sebanyak2nya orang. Dan salamkan salam saya, agar perbanyak sedekah, supaya doa lebih maqbuul lagi. Lebih dikabulkan. Juga jaga shalat fardhu berjamaah, di masjid, khususnya di masjid, dan sebisa mungkin jauhi dosa, jauhi maksiat.

disadur dari :
Sedekah Doa Pamrih by YM

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here

Video UYM Klik disini

hedaer web yv

Order Sauda Plus UYM

Image and video hosting by TinyPic

Download E-Book Gratis Ust.Yusuf Mansur,Isi data,Kemudian Cek Inbox Email Anda !

Recent Comments